KONI KABUPATEN TEGAL – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Tegal mendorong Pengurus Cabang Olahraga Asosiasi Futsal Kabupaten (AFK) Tegal untuk segera menjatuhkan sanksi (punishment) terhadap pemain yang terbukti melakukan pelanggaran dalam gelaran Turnamen Futsal ADB Cup 2 di GOR Indoor Trisanja Slawi.
Desakan tersebut muncul menyusul adanya indikasi pelanggaran keras yang dilakukan oleh seorang pemain secara individu, yang dinilai mencederai nilai sportivitas dan melanggar regulasi pertandingan. KONI menilai, AFK sebagai federasi memiliki kewenangan penuh untuk menegakkan aturan, meskipun futsal berada di bawah naungan Askab PSSI Kabupaten Tegal.
“Kami mendorong agar AFK tidak menunda-nunda dalam menjatuhkan punishment. Federasi memiliki dasar hukum dan peraturan tersendiri yang wajib ditegakkan,” tegas Ketua KONI Kabupaten Tegal, Bambang Asmoyo, Kamis (29/1/2026).
Dikatakan, setiap turnamen memiliki peraturan khusus yang disusun berdasarkan hasil technical meeting dan peraturan umum. Peraturan tersebut bersifat mengikat dan menjadi dasar dalam penegakan disiplin selama kejuaraan berlangsung.
Menurutnya, kejadian pada ADB Cup 2 tersebut murni merupakan tindakan pribadi pemain, bukan kesalahan tim, ofisial, maupun suporter. Bahkan, insiden kekerasan tersebut terjadi di luar situasi pertandingan yang telah dihentikan.
“Ini jelas pelanggaran serius. Kekerasan dalam olahraga tidak bisa ditoleransi karena bertentangan dengan prinsip fair play dan sportivitas,” lanjutnya.
Lebih lanjut, KONI Kabupaten Tegal menegaskan bahwa turnamen futsal, khususnya yang melibatkan pelajar dan batasan usia, sejatinya menjadi bagian dari pola pembinaan dan pencarian bibit atlet berprestasi. Oleh karena itu, setiap tindakan yang berpotensi merusak nilai pembinaan harus ditindak tegas melalui komisi disiplin.
“Kami berharap AFK segera memerintahkan komisi disiplin untuk menegakkan regulasi. Ini penting agar para atlet memahami bahwa setiap pelanggaran di lapangan memiliki konsekuensi,” katanya.
Selain itu, KONI Kabupaten Tegal juga mengingatkan peran ofisial tim agar lebih aktif memberikan arahan dan pembinaan kepada pemain, terutama dalam menjunjung tinggi sportivitas, fair play, dan menghindari segala bentuk kekerasan.
“Kekerasan tidak hanya merugikan citra futsal, tetapi juga dapat menghambat masa depan atlet itu sendiri. Perlu diingat, mereka berpeluang mengikuti seleksi dan penilaian untuk kejuaraan yang lebih tinggi, seperti POPDA, Porprov, hingga PON,” pungkasnya.
Bambang berharap, dengan penegakan aturan yang tegas dan konsisten, marwah futsal di Kabupaten Tegal dapat terjaga serta pembinaan atlet berjalan sesuai nilai-nilai olahraga yang menjunjung tinggi sportivitas.(*)